Artikel

SDGS DAN PENDIDIKAN INKLUSI DI INDONESIA 

SDGs dan relevansinya dengan pendidikan inklusi 

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia, terutama pada era seperti sekarang ini. Melalui pendidikan kita dapat mengubah karakter dan pribadi seseorang agar menjadi lebih baik, lebih maju, berkualitas, dan memperbaiki sumber daya manusia yang ada. Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia di dasarkan pada beberapa dasar hukum atau undang-undang, salah satunya yaitu UUD 1945 pasal 31 ayat 1 yang berbunyi “Setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan.” Sehingga berdasarkan pasal tersebut dapat dikatakan bahwa seluruh warga negara Indonesia berhak mendapatkan sebuah pendidikan yang layak tanpa membeda-bedakan status, golongan, maupun jenis kelamin mereka. Karena melalui sebuah pendidikan yang layak tersebut akan dapat membentuk sebuah generasi muda yang berguna bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia kedepannya. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat rendah, sehingga pemerintah melakukan berbagai upaya untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan kita, salah satunya dengan cara membuatkan sebuah kebijakan yang bernama Program Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau yang lebih dikenal dengan nama Sustainable Development Goals (SDGs).

SDGs memiliki 17 tujuan yaitu (1) mengatasi dan mengakhiri kemiskinan yang terjadi dimanpun, (2) menyudahi kelaparan dan memenuhi kebutuhan pangan dalam meningkatkan sumber gizi, (3) menjamin hidup yang sehat dan sejahtera untuk seluruh umur, (4) pendidikan berkualitas, adil, merata dan peluang belajar untuk sepanjang hayat bagi seluruh usia, (5) ekuilitas gender, (6) memastikan tersedianya air bersih serta sanitasi kelanjutan bagi semua, (7) akses terjangkau dan modern bagi semua, (8) memperkenalkan perkembangan ekonomi yang berkelanjutan, pekerjaan produktif, inklusif, dan memastikan pekerjaan yang layak bagi semua, (9) inovasi industri serta infrastruktur, (10) mengurangi tidak setaranya negara, (11) menjadikan perkotaan serta pemukiman yang ditanggali manusia aman dan nyaman, (12) konsumsi dan produksi berkelanjutan, (13) untuk mengatasi perubahan iklim serta dampaknya, (14) melestarikan perairan (laut), (15) memulihkan , menghentikan hilangnya beberapa keanekaragaman, (16) menyediakan akses keadilan bagi semua, (17) merevitalisasi pada kemitraan global serta memperkuat cara pengimplementasiannya, serta 169 target yang merupakan target untuk program gerakan global selama 15 tahun ke depan yang berlaku dari tahun 2016 hingga 2030 mendatang, untuk mengatasi kemiskinan, melindungi lingkungan, meningkatkan kualitas pendidikan, dan mengurangi kesenjangan. Berdasarkan 17 tujuan dan 169 target dari program SDGs ini, dapat disimpulkan bahwa tujuan utama dari program ini adalah untuk mendukung setiap manusia mendapatkan kualitas kehidupan yang baik dan layak.

SDGs memiliki kaitan yang sangat erat dengan penyelenggaraan pendidikan inklusi di Indonesia. Penyelenggaraan pendidikan inklusi di Indonesia erat kaitannya dengan tujuan keempat dari program SDGs, yaitu pendidikan berkualitas, adil, merata dan peluang belajar untuk sepanjang hayat bagi seluruh usia. Pendidikan berkualitas menjadi salah satu tujuan dalam kerangka SDGs yang menekankan pendidikan inklusif, adil, serta memperluas kemungkinan pembelajaran seumur hidup bagi semua individu, tanpa memandang gender maupun latar belakang dan status sosial anak. Hal ini sesuai dengan tujuan dari pendidikan inklusi yaitu memenuhi hak asasi setiap anak untuk menerima pendidikan tanpa pengalaman diskriminasi. Pendidikan inklusif merupakan pendekatan yang fundamental dalam dunia pendidikan yang menekankan bahwa setiap individu, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus, memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan berkualitas dalam lingkungan pembelajaran yang sama.

 Program pendidikan inklusif yang dicanangkan oleh kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2014), bertujuan untuk memberikan akses pendidikan bagi setiap anak, tanpa memandang latar belakang dan kemampuan mereka. Pendidikan inklusi ini juga dilandasi oleh beberapa kebijakan pemerintah Indonesia, salah satunya yaitu UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan bahwa Hak setiap warga negara, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus, untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Melalui pendidikan inklusi ini, dapat membawa dampak positif yang signifikan baik bagi peserta didik yang berkebutuhan khusus maupun yang tidak. Karena melalui interaksi yang terjalin dapat meningkatkan pemahaman dan rasa toleransi pada diri peserta didik. Selain itu melalui pendidikan inklusi ini juga peserta didik akan dapat mengembangkan rasa empati, kesempatan untuk belajar tentang keberagaman, dan keberagaman perspektif, yang merupakan keterampilan penting dalam masyarakat yang semakin kompleks.

Tantangan dan peluang penyelenggaraan pendidikan inklusi di Indonesia

Penyelenggaraan sekolah inklusi di Indonesia di latar belakangi oleh hak anak untuk memperoleh pendidikan. Sekolah inklusi adalah sebuah pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus tanpa memandang kondisi fisik, intelegasi, sosial, emosional, dan kondisi lainnya untuk belajar bersama dengan anak normal di sekolah reguler. Hal ini sesuai dengan UUD 1945 pasal 31 ayat 1 tentang hak peserta didik untuk mendapatkan pendidikan yang layak tanpa membeda-bedakan latar belakang mereka. Namun, di dalam penerapannya pendidikan inklusi sering kali menghadapi atau menemui beberapa tantangan, antara lain:

1. Kurangnya guru yang berkompeten

Latar belakang pendidikan yang tidak memberikan bekal kepada guru tentang anak berkebutuhan khusus menjadi penyebab guru di sekolah reguler menolak adanya kebijakan sekolah inklusi. Guru sering kali menganggap diri mereka tidak memiliki keterampilan untuk mengajar siswa dengan berbagai kebutuhan khusus, sehingga hal ini akan mempengaruhi penerimaan siswa dengan kebutuhan khusus di sekolah reguler.

2. Keterbatasan sarana dan prasarana

Penyelenggaraan sekolah inklusi memang membutuhkan sarana dan prasarana yang banyak, karena sekolah inklusi harus mampu mengakomodasi semua kebutuhan anak berkebutuhan khusus. Keterbatasan sarana dan prasarana akan berdampak pada kurangnya pelayanan yang diberikan sekolah bagi anak dengan kebutuhan khusus.

3. Beban administrasi dan modifikasi kurikulum

Sebagai seorang guru tentunya di tuntut untuk mengetahui program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan setiap anak salah satunya anak berkebutuhan khusus. Sehingga hal ini dapat membuat guru merasa kesulitan dalam menciptakan sebuah metode atau model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa di kelas tersebut. Selain itu guru juga terbebani dalam administrasi sekolah. Beban tersebut membuat guru merasa tidak sanggup untuk memasukkan siswa dengan kebutuhan khusus di kelas mereka.

4. Rendahnya kesadaran orang tua dan masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus

Pada kenyataannya masih banyak orang tua yang enggan memasukkan anak dengan kebutuhan khusus ke sekolah reguler dengan alasan khawatir akan adanya penolakan atau diskriminasi. Begitu juga masyarakat yang masih menunjukkan sikap kurang peduli terhadap keberadaan anak berkebutuhan khusus dan sekolah inklusi.

Berdasarkan beberapa tantangan yang ditemui tersebut, tentunya harus ada solusi dari pemerintah agar pendidikan inklusi di Indonesia dapat berjalan dengan baik, solusi-solusi tersebut meliputi (1) mengembangkan model pendidikan guru untuk mendukung pendidikan inklusi, (2) mengadakan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran orang tua dan masyarakat, (3) serta pemberian biaya tunjangan untuk pengadaan sarana dan prasarana di sekolah inklusi.

Diluar adanya beberapa tantangan yang ditemui dalam penyelenggaraan pendidikan inklusi, tentunya juga terdapat beberapa peluang yang akan muncul melalui pendidikan inklusi ini, di antaranya:

1. Menciptakan lingkungan yang terbuka dan ramah bagi semua anak

Lingkungan seperti ini mempromosikan penghargaan terhadap keberagaman dan mendorong saling pengertian di antara anak-anak. Ketika anak-anak tumbuh dalam lingkungan inklusif, mereka belajar untuk menghargai  perbedaan dan menerima setiap individu apa adanya. Ini membantu membangun masyarakat yang lebih inklusif secara keseluruhan.

2. Pendidikan inklusif memungkinkan anak-anak dengan kebutuhan khusus untuk mengembangkan potensi mereka sepenuhnya

Dalam lingkungan inklusif, mereka menerima dukungan yang tepat untuk membantu mereka mengejar tujuan pendidikan mereka. Mereka memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses kurikulum dan pengalaman belajar yang relevan. Ini tidak hanya meningkatkan keterampilan akademik mereka, tetapi juga memperkuat keterampilan sosial dan emosional.

3. Mampu membantu siswa menyadari kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki

Ketika seseorang mulai menyadari keterbatasan yang dimiliki, kemudian lingkungan sekolah mendukung untuk berkembang, maka sangat dimungkinkan seseorang tersebut berpotensi berkembang sebagaimana yang lainnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DATA PENDIDIKAN INKLUSI DI INDONESIA